AS dan ASEAN Akan Latihan Perang

0
48
us navy seal

Klaim tradisional Cina memang janggal. Tapi, klaim tradisional AS di Laut Cina Selatan Lebih Tak Masuk Akal.

Angkatan Laut Amerika Serikat akan menggelar latihan perang bersama-sama ke-10 negara anggota ASEAN bulan depan. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengungkapkan hal ini awal Agustus saat menghadiri pertemuan puncak dengan ASEAN dalam upaya mempromosikan apa yang disebut pemeritahan Trump sebagai strategi “Indo-Pacific”.

AFP mengungkapkan bahwa AS telah secara tradisional menjadi “kekuatan angkatan laut yang dominan” di kawasan Asia Tenggara dan keterlibatannya lagi di wilayah itu muncul saat maraknya perang dagang di Cina.

Namun, Cina juga telah mengklaim bahwa Laut Cina Selatan adalah “wilayah pemancingan tradisional” Negeri Tirai Bambu ketika kapal-kapal Cina telah menyambangi negeri-negeri di kawasan antara lain sejak zaman Dinasti Ming (sejak 1368).

Latihan akan dilakukan di lepas pantai Provinsi Ca Mau, Vietnam. Akan diskenariokan bahwa AS akan mengirim kapal-kapal mencurigakan. Kemudian, personel militer ASEAN akan dibantu untuk mencari, meverifikasi, dan menuntut kapal secara hukum.

Thailand menepis pihaknya sedang bermain dengan dua kaki terkait kepentingan Cina dan AS di Laut Cina Selatan. Bulan lalu Thailand meruapkan satu daru emoat negara ASEAN yang juga mengikuti latihan erang laut dengan Cina.

Seorang juru bicara kementerian pertahanan Thai sampai menjelaskan hari Sabtu (24/8/2019), latihan dengan AS taka da kaitannya dengan latihan dengan Cina pada bulan lalu.

“Kami mengadakan latihan dengan Cina, sekarang kami melakukan latihan dengan AS, tidak ada hubungannya dengan situasi saat ini,” lata juru bicara Kemenhan Letnan Jenderal Kongcheep Tantravanich.

Adapun menteri pertahanan Taiwan mengatakan, pada hari Jumat sebuah kapal militer AS berlayar melalui Selat Taiwan untuk melakukan suatu “kebebasan navigasi”.

Tindakan itu memang bisa dinilai “memanas-manasi” Cina di tengah penjualan senjata senilai 8 miliar dolar AS kepada Taiwan, yang bagi Beijing merupakan bagian dari wilayah Cina.

Laut Cina Selatan dan Selat Malaka secara historis adalah kawasan sibuk tempat berlalunya kapal-kapal dagang dan kapal-kapal lain dari berbagai bangsa. Apa saja yang telah dilakukan Cina dan AS di dua perairan sibuk tersebut?

Ekspedisi Budaya Tiongkok

Tiongkok telah dikenal penduduk di kawasan Asia Tenggara, termasuk warga kepulauan nusantara sejak dulu. Pada masa Republik Rakyat Cina (sejak 1949) hingga kini Cina mengakui Laut Natuna wilayah Indonesia. Tapi, ia mengklaim bahwa perairan itu merupakan daerah memancing tradisionalnya.

Maka, kapal perang ALRI pun mengejar dan memberi tembakan peringatan ke arah sekelompok nelayan Tiongkok pada 2016, menyita sebuah perahu nelayan serta menangkap tujuh awak kapal dalam Zona Ekonomi Eksklusif di sekitar Kepulauan Natuna.

Cina memprotes tindakan RI yang dianggap “berlebihan” sampai melukai seorang pelaut Cina yang kemudian mereka bawa ke Pulau Hainan di Cina Selatan untuk perawatan.

Klaim Cina mengenai “traditional fishing ground” tampaknya menunjukkan negara itu hanya berkilah dengan memanfaatkan diplomasi budaya yang telah berabad-abad dipraktikkan Negeri Tirai Bambu.

Itu suatu strategi Cina untuk mempertahankan kedaulatannya. Ia membanggakan diri sebagai Zhongguo (Chungkuo atau Tiongkok) yang berarti “Negara Tengah” sebagai pusat dunia dengan memagari wilayahnya dengan Tembok Besar untuk menjaga diri dari serbuan orang Mongol, meski yang terakhir ini berhasil menaklukkan Zhongguo dan mendirikan Dinasti Yuan (1279—1368 M).

Cina tampaknya bertahan menjajal pendekatan budaya terhadap kita. Ia seolah hendak mengingatkan ratusan tahun “hubungan baik” Tiongkok-nusantara ketika ekspedisi pelayaran di bawah Laksamana Zheng He membawa misi budaya bahkan ikut menyebarkan agama Islam bermazhab Hanafi di Melaka dan beberapa pesisir di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.

Itu pada masa Dinasti Ming (1368–1644) yang bahkan dianggap dinasti terbaik oleh warga mayoritas Han ketika mereka merindukan masa jaya Ming saat mereka menghadapi invasi Manchu pada masa Dinasti Qing (1644–1911). Tapi, romantisme sejarah belaka tak cukup kuat menjadi pembenaran terhadap pelanggaran wilayah yang menguasai hajat hidup para nelayan.

Adapun para alademisi dan intelektual, seperti John King Fairbank asal AS, menyebutkan ajaran Khonghucu dan Taoisme mendasari banyak aspek kebudayaan Tiongkok dan tetap bertahan bahkan ketika negeri ini dijajah bangsa Manchu yang mendirikan Dinasti Qing. Tapi, bangsa Manchu meneruskan tradisi ujian kesarjanaan yang bercorak Konfucianis.

Konfucianisme dan Taoisme pulalah yang membuat negeri di selatan, Yuenan (kini Vietnam) kental dengan pengaruh budaya Cina, walaupun Tiongkok tak pernah berhasil menjajah Vietnam dengan kekerasan.

Infiltrasi budaya terhadap Vietnam ini agaknya menginspirasi ahli strategi AS, Joseph Nye, ketika melontarkan gagasan “soft power” sebagai pengganti kekuatan militer karena dinilai lebih efektif menaklukkan suatu bangsa. Maklum, militer AS sendiri harus hengkang dari Vietnam setelah menghadapi perang gerilyanya yang mengejutkan.

Ekspedisi Kapal Perang AS

Bicara soal militer, maka selat Malaka dan Laut Cina Selatan telah menjadi kepedulian AS sejak dulu. Amerika tampil agresif terutama setelah mengalami peritiwa 11 September 2011 saat teroris menyerbu bangunan-bangunan penting di New York dan Washington, DC.

Namun, rakyat AS sendiri menyebut kegandrungan akan perang telah menghinggapi negaranya lebih awal, ketika Frank Dorrel bersama-sama AK Press menerbitkan buku, Addicted to War: Why The US Can’t Kick Militarism (2002).

Pada bulan Juni 2012 pimpinan Pentagon Leon Panetta mengumumkan di Singapura bahwa AS akan memindahkan armada angkatan lautnya ke Pasifik pada 2020 sebagai bagian dari fokus srategi barunya terhadap Asia (http://www.thejakartaglobe.com/international/australia-rules-out-us-nuclear-aircraft-carrier-base).

AS disebut-sebut akan menempatkan angkatan perangnya ke Australia, dan akibatnya Indonesia kerap menghadapi ketegangan karena berjumpa dengan pesawat-pesawat tempur maupun kapal induk mereka di perairan nusantara –rute terdekat dari Jepang.

Salah satunya dikenal dengan “insiden Bawean” saat pesawat F-16 TNI AU berhasil mendeteksi penerbangan ilegal lima pesawat F-18 Hornet milik US Navy yang sedang bermanuver di perairan Bawean Jawa Timur.

Indonesia menilai pesawat-pesawat melintasi daerah itu tanpa meminta izin lebih dahulu. Pihak AS mengklaim pihaknya berada di perairan internasional sehingga tak perlu meminta izin kepada RI. Harian Merdeka memberitakan ini sebagaimana disampaikan pada 23 Mei 2013. Diceritakan bahwa kejadian itu sangat menegangkan sebab yang dihadapi pesawat tempur TNI AU adalah juga pesawat tempur, dan masing-masing pihak siap dogfight.

Lalu, diberitakan bahwa TNI AU merasa inferior dengan pilot-pilot tempur pesawat US Navy, jumlah pesawat F-18 Hornet lebih canggih serta lebih banyak, serta adanya dukungan pesawat tempur lain dari kapal induk US Navy yang berada di perairan, maka pilot-pilot F-16 mulai memperkenalkan diri. Dengan memperkenalkan diri kepada pilot-pilot F-18 Hornet itulah akhirnya ketegangan menjadi reda. Dan akhirnya pesawat-pesawat pesawat tempur kedua negara balik ke posisi masing-masing.

Pada 23 Juni 2013 Satuan Radar (Satrad) TNI-AU Rinai menangkap indikasi adanya enam kapal perang asing di perairan Pulau Laut dan Pulau Subi Natuna, Kepri. Ternyata keenam kapal itu milik mariner AS. TNI AU sempat menerbangkan peswat Cassa untuk mengintai keenam kapal perang tersebut. Rupanya kapal-kapal dilengkap persenjataan dan berlayar beriringan di perairan Indonesia. Iring-iringan kapal perang AS terdiri atas kapal induk USS Ronald Reagen, dua kapal perusak, dua kapal frigate, satu tanker minyak. Kapal induk USS Ronald Reagan mengangkut puluhan pesawat tempur.

Danlanal Ranai Kolonel Laut (P) Deddy Suparli membenarkan adanya iring-iringan kapal perang AS yang melintasi wilayah perairan Indonesia. ”Jelas terlihat kapal tersebut berbendera AS dan memasuki perairan Indonesia tanpa tujuan yang jelas,” kata Deddy seperti dikutip Tribun Batam.

Satrad TNI AU berada di bawah Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas). Radar itu ditaruh di perbatasan, juga di daerah terpencil Kepulauan Indonesia, namun tampak tak banyak membantu pertahanan RI dengan alasan yang akan dikemukakan di sini.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengakui sudah ada radar di Pulau Saumlaki untuk membantu mendeteksi adanya pergerakan pesawat asing. Namun, bila ada pesawat memasuki wilayah Indonesia, hal itu tak bisa ditindaklanjuti dengan menyampaikannya kepada Kohanudnas untuk mengirimkan pesawat Sukhoi dari Makassar.

“Di Pulau Saumlaki, ada sebuah radar, tetapi jika radar tersebut melihat ada pesawat yang masuk ke wilayah Indonesia, dia hanya bisa berdoa saja. Berdoa, Ya Tuhan semoga mereka bisa segera keluar dari Indonesia,” kata Gatot sambil tersenyum (7/01/2016).

Menurut Panglima TNI, di Pulau Saumlaki yang berbatasan langsung dengan Australia terdapat radar untuk mendeteksi pesawat yang memasuki wilayah Indonesia. Tapi percuma saja, kata Gatot sebagaimana dikutipkan Republika.co.id, “Karena dari Makassar tidak bisa mengirim pesawat Sukhoi untuk mengusir pesawat asing tersebut.”

Pada Novemberr 2016 akhirnya AS memang menggelar latihan bersama militer AS dan TNI AU. Namun, latihan angkatan perang ini tampaknya belum menjawab pertanyaan-pertanyaan maupun prasangka di benak orang banyak mengenai kemungkinan hadirnya pangkalan militer AS di Indonesia. Mungkin, pihak AS tengah mencoba berbaikan dengan TNI atas “penampakan” mereka yang mengganggu selama ini di wilayah RI.

Digelar di Bandara Sam Ratulangi, Manado, pihak AS Letkol Marinir Stephen McClune mewakili militer AS menekankan pentingnya menggelar latihan bersama ini dengan tema Cope West.

“Indonesia adalah mitra regional yang kuat dan kami menggunakan kesempatan latihan ini untuk meningkatkan ketrampilan teknis dan juga untuk mempererat persahabatan, saling pengertian dan saling menghormati antara kedua angkatan bersenjata,” ungkapnya dikutip Manadotoday.com (1/11/2016).

Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey mengatakan, untuk pertama kali setelah 19 tahun yang lalu kembali ada latihan kerjasama tentara Amerika dan tentara Indonesia di Sulut.

——————————————————————————–AFP/en.wikipedia.org/inews.id/Khalifah, Ed 2011/Regional.kompas.com, 2016/ap/Portalasean.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.