Bunuh Diri di Singapura Capai 10%, Anak Laki-laki Tertinggi

0
84
bunuh diri di singapore

Bunuh diri dipandang sebagai masalah yang krusial di Singapura.
Bermula dari catatan Samaritans of Singapore (SOS) pada hari Senin
(29/7/2019), yang menyebutkan angka bunuh diri yang meningkat hingga 10
persen tahun lalu, dengan tingkat bunuh diri umur 10 hingga 19 pada angka
tertinggi.

Ada 397 laporan bunuh diri pada 2018, dibandingkan tahun sebelumnya yang
361. Ini menaikkan rata-rata bunuh diri hingga 836 kematian per 100.000
warga Singapura, mencapai 774 pada 2017.

Untuk semua kelompok, kecuali umur 60 ke atas, tercatat meningkat dalam
jumlah bunuh dirinya, kata agen pencegahan bunuh diri tersebut.
Kematian akibat bunuh diri di kalangan anak muda dan laki-laki menjadi
suatu “keprihatinan masyarakat secara signifikan,” kata SOS,
menggarisbawahi 10 aksi bunuh diri pada 2018, sedikitnya tujuh di antaranya
dilakukan laki-laki.

Total 94 orang berusia 10 dan 29 membunuh diri mereka tahun lalu, kata
SOS.
Di antara anak laki-laki berusia 10 dan 19 tahun, ada 19 kasus bunuh diri
tahun lalu –tertinggi sejak catatan 1991– dan nyaris naik tiga kali lipat dari
catatan tujuh kasus pada 2017.

“Adalah meresahkan mengetahui bahwa banyak anak muda kita merasa tak
didukung melewati periode-periode tergelap mereka dan melihat bunuh diri
sebagai satu-satunya pilihan untuk mengakhiri duka dan pergulatan mereka,”
kata asisten direktur senior SOS Wong Lai Chun.

Anggota Parlemen Rahayu Mahzam, yang menjabat komite parlemen
pemerintah, mengatakan kepada CNA bahwa angka-angka itu
“mengkhawatirkan” dan bahwa kesehatan mental tidak nampak ketika ia
berada bersama-sama kaum muda.
“Mereka dengan instens sadar akan pentingnya kesehatan jiwa dan ada
perasaan bahwa kita perlu lebih banyak membicarakan isu ini dan
menyediakan lebih banyak sumber dukungan,” kata Ibu Rahayu.

bunuh diriNamun, Ibu Wong menyebutkan kaum muda sekarang mulai mau mencari
pertolongan.
Di antara mereka yang menyurati SOS untuk dukungan emosional, lebih dari
78 persen adalah berusia antara 10 dan 29. Ini suatu peningkatan lebih dari
56 persen pada tahun fiskal yang berakhir Maret lalu, kata SOS.

“Kaum muda kini tampaknya punya kepedulian lebih besar terhadap momen-
momen saat mereka merasa sendirian dan tak berdaya. Mereka mau mencari
dan mengeksplorasi jalan-jalan dukungan yang tersedia seperti layanan
bantuan kami, media sosial, dan yang sejenisnya,” kata Wong.
Rahayu mengusulkan agar NS (Layanan Nasional) bisa menjadi jalan untuk
menyediakan dukungan bagi kaum muda laki-laki.

“Saya tahu kesejahteraan pegawainya merupakan hal penting selama
mengikuti NS. Kita bisa mencari tambahan dukungan melalui barangkali
pelatihan pegawai dilengkapi keahlian tertentu untuk mencari ke luar mereka
yang butuh pertolongan atau ke dalam mencari bagaimana meningkatkan dan
menciptakan kultur penjagaan diri,” katanya.

“Di bawah upaya-upaya Pemuda M3 (Mcube), kita juga punya program-
program spesifik gender untuk para siswa ITE (Institusi Pendidikan Teknik) di
bawah program-program kewenangan kita. Ini peluang yang sesuai untuk
menghadapi masalah seperti ini,” tambah Rahayu.
“Kita tinggal dalam sebuah masyarakat yang menekankan pentingnya
kualitas maskulin sebagai ukuran keberhasilan. Akibatnya, kita tumbuh tidak
sabar akan tingkah laku yang nampaknya menggambarkan kelemahan,” kata
Wong.

“Laki-laki secara stereotip diharapkan tangguh, tabah, dan mapan secara
finansial. Sedikit gejala kelemahan saja dapat dilihat sebagai
ketidaksempurnaan.

Ini harus berubah. Laki-laki maupun perempuan perlu mengetahui bahwa
tidak apa-apa jika kurang sempurna dan kita perlu mendidik masyarakat
bahwa lingkungan yang mendukung dan menyemangati itu lebih bermanfaat
ketimbang menghakimi seseorang untuk masyarakat kita,” tambahnya.
Anggota Parlemen Seah Kian Peng, yang juga duduk di komisi pembangunan
sosial dan keluarga, menekankan bahwa bunuh diri adaah masalah yang

kompleks, dan bahwa kebugaran mental adalah “sesuatu yang kita semua
harus peduli”.

“Satu bunuh diri itu terlalu banyak. Kesehatan mental adalah sesuatu yang
penting dan serius, kata Pak Seah.
Ia menekankan pentingnya mediasi yang tepat waktunya dan menyemangati
mereka yang berisiko atau yang mengetahui adanya orang berisiko untuk
mendapat pertolongan dengan mendapatkan organisasi seperti Samaritans of
Singapore.

“Itu bisa dirawat dan banyak tempatnya. Itu dapat terjadi pada siapa pun dan
Anda tidak sendirian,” katanya.
Diajukanlah alamat beserta e-mail dan nomer Samaritans of Singapore yang
buka 24 jam.

Samaritan sendiri diambil dari kitab Injil dan dicandrakan dalam bahasa
Inggris sebagai kaum penolong bag mereka yang membutuhkan.
————————————————–
(Channelnewsasia.com/ap/Portalasean.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.