Globalisasi dan Kebangkitan Nasional

0
171
bendera indonesia

Jakarta – 20 Mei 2016 ini bangsa Indonesia baru saja memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-108. Kala itu, pada 1908  para pemuda yang tergabung dalam Boedi Oetomo seperti R. Soetomo dan para mahasiswa STOVIA lainnya mampu menggugah semangat dan kesadaran kebangsaan. Peristiwa yang digulirkan para kaum muda terdidik ini adalah peristiwa kebudayaan yang sangat penting, karena kemudian diikuti gerakan kebangsaan lainnya yang berakar nasionalisme, seperti Serikat Dagang Islam (1911) , para kaum entrepreneur islam, Muhammadiyah (1912) yang merupakan perkumpulan islam modernis, Indische Party (1912),  subkultur campuran Indo Belanda, Indo Chinese, Indo Arab dan Indonesia asli, Trikoro Dharmo (1915) sebagai embrio Jong Java(1918), Nahdatoel Oelama (1926) , kemudian Jong Ambon, Jong Sumatra, Jong Celebes, yang selanjutnya bermuara pada gerakan kebudayaan yang lebih dahsyat, Sumpah Pemuda (1928).

Tentu saja tantangan saat itu dan masa kini jauh berbeda. Namun ada satu hal yang mesti dijadikan benang merah dan pegangan hingga era globalisasi ini adalah semangat Kebangkitan Nasional , yakni kesadaran kebangsaan yang semua berujung pada upaya menegakkan kedaulatan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Kesadaran akan identitas nasional yang lahir dari peristiwa Sumpah pemuda menjadi modal besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Globalisasi menghadirkan tantangan sekaligus peluang sehingga kemampuan suatu bangsa untuk mengoptimalkan sumberdayanya dan peluang akan menghasilkan lompatan kemajuan, namun jika tidak siap dengan strategi yang komprehensif dalam memanfaatkannya akan menjadi petaka. Berbagai perubahan dalam berbagai aspek kehidupan mesti ditanggapi dengan tepat dan cermat.

pejuang indonesia

Memudarnya tapal batas begitu terasa ketika lalulintas barang, informasi, dan manusia antartempat, antarnegara, antarbenua begitu cepat bahkan real time. Bisnis global, budaya global, dan informasi global telah menjadi keniscayaan di tengah arus globalisasi ini. Kata kunci penting dalam memenangkan persaingan global ini adalah daya saing. Termasuk dalam daya saing ini tidak hanya masalah pendidikan dan keterampilan, namun juga budaya. Budaya akan menjadi jangkar dan penentu arah agar bangsa ini tidak hanyut terbawa derasnya arus globalisasi.

Proses globalisasi kerap kali disebut melahirkan neoliberalisme dan kapitalisme yang hadir melalui melalui berbagai kesepakatan dalam bentuk GATT, WTO, AFTA, APEC dan sebagainya. Hadirnya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akhir tahun 2015 lalu, menjadi tantangan dan peluang tersendiri. Implikasi dari semua ini adalah tumbuhnya tata sosial baru. Peranan dari semangat kebangsaan yang lahir dari jiwa Kebangkitan Nasional dibarengi dengan daya saing tinggi menjadi kunci dalam berkiprah dalam aras global. Dengan demikian dalam membuat strategi nasional, kebudayaan dan penanaman nilai-nilai keIndonesian harus menjadi satu kesatuan, bahkan harus menjiwai seluruh produk kebijakan. (Bambang Wibawarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.