Mengintip Cara Sukses Bertani Taiwan

0
109

Jakarta — Taiwan punya corak usaha tani yang berbeda dengan negara lain dalam memajukan sektor pertanian. Hal inilah yang menjadi alasan sejumlah delegasi pertanian dari Indonesia mengunjungi Taiwan. “Di Taiwan tidak ada middle man yang mengambil untung dari usaha tani,” kata General Manager Wu-Feng Farmers’ Association, Ching- Chien Huang saat menjawab pertanyaan Tim Delegasi Indonesia yang berkunjung ke Taiwan, Rabu (28/02).

Menurut Ching Chien, peran middle man yang menjadi perantara digantikan oleh asosiasi petani. “Tidak ada calo. Semua pedagang yang bergerak merupakan anggota asosiasi sehingga keuntungannya menjadi milik semua anggota yang terdiri dari petani hingga pedagang,” kata Ching Chien.

Dalam asosiasi setiap anggotanya bekerja keras, tekun, ulet dan kompak dalam kerja sama. Kepala Balai Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan, para delegasi yang berkunjung ke Taiwan mengambil banyak pelajaran penting dari cara bertani di negara tersebut. “Khususnya soal aspek kerja sama,” kata dia. Dedi mengatakan, aspek kerja sama merupakan hal yang paling sulit ditemukan di negara lain, termasuk di Tanah Air. “Bekerja sama dalam tim yang besar secara kompak, sinergis, terpadu dan sistematis belum menjadi budaya kita,” ujar Dedi. Dia menceritakan, di Taiwan terdapat Council of Agriculture yang membentuk, membina dan membimbing Asosiasi Petani yang mirip gabungan kelompok tani atau gapoktan di Indonesia. Asosiasi ini dibentuk mulai dari tingkat kecamatan (sub district), kabupaten (district) dan pusat (nasional).

Di bawah Asosiasi Petani, terdapat berbagai kelompok produksi seperti kelompok produksi padi, kelompok produksi sayur-sayuran, kelompok produksi buah-buahan dan lain-lain. “Tergantung potensi daerah masing-masing,” kata Dedi. Asosiasi Petani di Taiwan juga mendapat bimbingan dari Research and Extension Center di bawah Council of Agriculture, sehingga sistem usaha pertaniannya berbasis ilmiah. Wu-Feng Farmers’ Association di Taichung, misalnya, berbasis komoditas padi. Mereka memiliki berbagai jenis usaha dengan aset yang sangat besar, antara lain koperasi, toko, penggilingan padi hingga pabrik minuman beralkohol asal padi untuk sake, perbankan dan asuransi. Setiap unit usaha dikelola tenaga profesional.

Berbeda lagi dengan bisnis yang ada di Bade, di kota Taoyuan. Asosiasi Petani di Taoyuan lebih banyak bergerak di komoditas sayuran. Di bawah Asosiasi Petani ini, terdapat berbagai kelompok produksi pertanian. Semua tahapan bisnis komoditas sayuran di Bade dikelola oleh Bade Farmers’ Association yang sahamnya milik petani. Beberapa hari sebelum panen, Asosiasi melakukan uji laboratorium terhadap kualitas produk, antara lain uji residu pestisida dalam sayuran. “Di Taiwan uji kualitas produk sayuran sangat ketat. Ini penting untuk menjaga kepercayaan konsumen,” kata Manager Bade Farmers’ Association, Mr. Lee. Apabila produknya lolos ujil laboratorium, maka produknya masuk kelompok sortir dan pengepakan.

“Sortir dan pengepakan ini sangat penting agar konsumen mendapatkan produk yang berkualitas,” kata Ming-Hsi Lai, ahli agronomi dari Taiwan Agriculture Institute. Selanjutnya, Asosiasi akan menjual produk petani kepada konsumen domestik maupun ekspor. Dengan pola seperti itu, bisnis sayuran di Taiwan sangat menguntungkan. “Pendapatan petani jauh melampaui orang kantoran,” kata Lee.

Menurut Dedi, kerja sama a la petani Taiwan mirip Corporate Farming yang akan dikembangkan di Karawang. “Sistem di Taiwan yang sudah menjadi perilaku (behavior) atau kebiasaan (custom) tersebut akan dikembangkan di Karawang sebagai model,” kata Dedi.

Sumber: republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.