“Airport Tax” Naik, Siap-siap Harga Tiket Pesawat Ikut Naik

0
60

Jakarta — PT Angkasa Pura II (Persero) berencana untuk menaikkan tarif pelayanan jasa penumpang udara (PJP2U) atau passenger service charge (PSC), salah satu komponen  airport tax atau pajak Bandara Soekarno-Hatta pada 1 Maret 2018 mendatang. Kenaikan tersebut tentunya bakal mengerek harga tiket pesawat yang dibeli penumpang. Adapun perubahan tarif PSC tersebut adalah untuk penerbangan domestik di Terminal I Bandara Soekarno-Hatta dari Rp 50.000 per penumpang menjadi Rp 65.000 per penumpang. Penerbangan domestik di Terninal II dari Rp 65.000 per penumpang menjadi Rp 85.000 per penumpang. Kemudian, penerbangan internasional di Terminal III naik dari Rp 200.000 per penumpang menjadi Rp 230.000 per penumpang. Sementara penerbangan domestik di Terminal III tidak mengalami perubahan, yakni tetap Rp 130.000 per penumpang. Terkait perubahan tersebut, sejumlah maskapai mengatakan, biaya yang harus dikeluarkan  penumpang untuk membeli tiket otomatis akan ikut naik. Pasalnya, komponen airport tax merupakan salah satu unsur penentu biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapat tiket. Corporate Communication Lion Air Group Ramaditya Handoko mengatakan, kenaikan harga tiket tersebut menyesuaikan dengan kenaikan tarif airport tax. Seperti diketahui, maskapai Lion Air Group (Lion Air, Batik Air) beroperasi di Terminal IA, IB dan IC. “Jadi disesuaikan dengan kenaikan PSC (airport tax). Misalnya kalau ke Yogyakarta Rp 500.000 dan PSC naiknya Rp 15.000 nah tiketnya menjadi Rp 515.000,” kata Ramaditya. Maskapai penerbangan pelat merah Garuda Indonesia juga mengungkap hal serupa. Penumpang harus mengeluarkan biaya lebih besar karena adanya komponen yang naik dalam jumlah total harga tiket. Sementara itu, Sriwijaya Air yang juga beroperasi di Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta, justru mengatakan  harga tiket pesawatnya tidak akan naik walaupun ada penyesuaian besaran airport tax. “Engga ada kenaikan harga tiket. Kenaikan airport tax nggak pengaruhi harga tiket kami,” tutur Senior Manager Corporate Communications Sriwijaya Air Agus Sujono.   Vice President Corporate Communication AP II Yado Yarismano mengatakan, penyesuaian tarif tersebut sudah melalui persetujuan Kementerian Perhubungan. “Penyesuaian tarif ini atas pelayanan dan fasilitas yang diberikan kepada penumpang,” ujar Yado, Selasa (13/02). AP II pada 2017 membukukan pendapatan sebesar Rp 8,2 triliun. Perolehan tersebut naik 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya pada 2016 sebesar Rp 6,6 triliun. Pendapatan tersebut disumbang dari pendapatan aeronautika seperti tarif pelayanan jasa penumpang pesawat udara (PSC), biaya pendaratan pesawat dan pemakaian pesawat sebesar Rp 5,01 triliun. Sementara itu, bisnis non-aeronautika, seperti sewa ruang, reklame dan bisnis kargo, menyumbang Rp 3,23 triliun. Menurut Direktur Utama AP II Awaluddin, peningkatan pendapatan ini berkorelasi dengan kenaikan arus penmumpang di bandara yang dikelola perseroan. Pada tahun 2017, perseroan mencatat jumlah penumpang sebanyak 105 juta penumpang atau naik 10,83 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 94 juta penumpang. AP II pada tahun ini membidik pendapatan Rp 9,4 trilliun atau tumbuh 17,6 persen dibanding 2017. AP II membidik jumlah lalu lintas penumpang sebanyak 119 juta orang pada tahun ini.

Sumber: kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.