Tata niaga daging sapi perlu diubah untuk tekan harga

0
37

Jakarta — Tata niaga daging sapi di Indonesia harus dapat ditransformasikan sebagai upaya untuk menekan harga karena saat ini harga daging sapi di berbagai daerah masih bertahan di atas Rp 100.000 per kilogram. Kepala Penelitian Central for Indonesian Policy Studies (CIPS) Hizkia Respatiadi di Jakarta, Minggu (10/12) mengatakan untuk mengatasi hal itu, tata niaga daging sapi yang sudah ada wajib diubah. Menurut Hizkiah, banyak hal yang membuat harga daging tetap mahal, salah satunya adalah kebijakan pembatasan impor daging sapi yang ditetapkan pemerintah. Padahal, lanjutnya, harga daging sapi di pasar internasional lebih murah dari harga daging sapi di dalam negeri. “Rantai distribusi untuk daging impor jauh lebih sederhana daripada untuk daging sapi lokal. Daging sapi lokal harus melewat tujuh sampai sembilan titik sebelum sampai di tangan konsumen. Sementara daging impor hanya melewati paling banyak dua titik sebelum sampai di tangan konsumen,” katanya pula. Ia berpendapat, rantai distribusi yang pendek ini tercipta karena daging impor adalah produk siap masak. Karena itu, daging sapi impor tidak membutuhkan tempat penggemukan hewan, rumah potong hewan dan para pedagang di tempat penampungan ternak sebelum sampai ke tangan konsumen. Dengan demikian, daging sapi impor memberi ruang sedikit kepada para pelaku distribusi untuk mengenakan harga tinggi. Pada akhirnya, lanjut Hizkia, harga yang tinggi ini juga dibebankan kepada konsumen. Sebelumnya, CIPS memandang perlu pemerintah benar-benar memastikan ketersediaan daging sapi dengan harga terjangkau karena komoditas pangan itu memiliki banyak manfaat bagi gizi anak. “Hal ini penting mengingat komoditas yang satu ini memiliki banyak manfaat, salah satunya sebagai makanan yang banyak gizi untuk mendukung tumbuh kembang anak,” kata Hizkia Respatiadi. Menurut Hizkia, harga daging sapi yang terus tinggi membuat tidak semua keluarga bisa mengkonsumsinya. Setelah melakukan berbagai cara, seperti menetapkan harga acuan dan membentuk satuan tugas (satgas) pangan, pemerintah tetap belum bisa menurunkan harga daging sapi. Hal tersebut, lanjutnya, terindikasi dari harga komoditas yang satu ini tetap tidak bisa mencapai angka Rp 80.000 per kg, seperti yang sudah ditargetkan. “Dalam 8 tahun terakhir, harga daging sapi di Tanah Air selalu lebih tinggi daripada harga daging di pasar internasional. Harga daging sapi di Indonesia pada bulan Agustus 2017 adalah Rp 108.072 per kg. Sementara itu, harga sapi di pasar internasional adalah Rp 55.746 per kg,” ujarnya lagi. Ia mengatakan bahwa menu dengan bahan dasar daging sapi sudah  umum di kalangan masyarakat Indonesia, terutama kerap menjadi olahan favorit keluarga Indonesia dan pada acara-acara istimewa.

Sumber: Antaranews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.