IKM furnitur dan kerajinan siap sokong bisnis pariwisata dan hotel

0
85

Jakarta — Industri Kecil dan Menengah (IKM) sektor furnitur dan kerajinan nasional siap memasok berbagai produk unggulan untuk memenuhi kebutuhan bisnis pariwisata dan perhotelan di Indonesia yang kian tumbuh. “Bahan baku dan desain produk dari industri furnitur dan kerajinan, menjadi salah satu produk unggulan Indonesia. Contohnya kayu jati yang dikenal memiliki daya tahan yang tinggi dan desain berkualitas untuk pemakaian di sektor perhotelan,” kata Dirjen IKM Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih dalam keterangan tertulis, Jumat (24/11). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah hotel berbintang di Indonesia pada tahun 2016 sebanyak 2.387 unit, atau mengalami peningkatan sebesar sembilan persen dibanding tahun sebelumnya. Hal ini seiring dengan kenaikan signifikan dari wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia secara kumulatif pada periode Januari-September 2017 mencapai 10,46 juta kunjungan atau lebih tinggi 25,05 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. “Bisnis pariwisata di dalam negeri cukup berpeluang besar mengingat Indonesia memiliki banyak potensi keindahan alam serta keragaman dan keunikan budaya dengan didukung jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Ini yang perlu direspons oleh para pelaku IKM kita,” kata Gati. Menurutnya, bisnis pariwisata tak terlepas dari bisnis hospitality, yang mencakup sektor perhotelan, property developer, kontraktor hotel, furnitur interior dan outdoor living. “Hal ini tentunya juga menjadi peluang bagi sektor IKM dan kerajinan untuk berinteraksi dan mempromosikan produk unggulan produk masing-masing,” ujar dia. Kemenperin mencatat, hingga saat ini jumlah IKM furnitur dan kerajinan sebanyak 150 ribu unit usaha. Sebagian besar sudah mampu menembus pasar ekspor terutama ke negara tujuan seperti Amerika Serikat, Jepang, China, Korea Selatan, Australia, Saudi Arabia dan Inggris. Capaian ini menempatkan Indonesia di posisi kelima terbesar di dunia dalam nilai ekspor furnitur dan kerajinan yang menyumbang 1,04 miliar dolar AS pada tahun 2016. Bahkan beberapa IKM dari Jawa dan Bali sudah menyediakan kebutuhan furnitur untuk resort di Maldives,” ungkap Gati. Upaya ini jadi contoh yang bagus bagi IKM nasional untuk menyediakan kebutuhan furnitur dan kerajinan ke negara lain yang memiliki potensi tinggi pada hospitality industry. Gati menambahkan, penetrasi produk lokal ke pasar domestik maupun global harus dilaksanakan secara terintegrasi dan berkelanjutan baik melalui offline maupun online. “Selain tujuan promosi, program inipun dapat meningkatkan kapasitas pelaku IKM dalam negeri di bidang e-commerce. Hingga September 2017, sudah lebih dari 1.600 pelaku IKM dari berbagai daerah mengikuti workshop E-smart,” tuturnya. Gati berharap, dengan semakin tingginya tren back to nature, permintaan furniture dan kerajinan yang dihasilkan IKM lokal dengan kualitas tinggi serta mengedepankan aspek ergonomis dan kenyamanan pemakai dan mengalami peningkatan signifikan. Salah satu hotel di Indonesia dengan mengusung konsep ini adalah Nihiwatu Hotel Sumba Barat yang didaulat sebagai hotel terbaik di dunia tahun 2016.

Sumber: Antaranews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.