Produksi Minyak Sawit RI Turun, Ini Sebabnya

0
377

Jakarta — Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan total produksi minyak sawit dalam negeri pada 2016 turun tipis tiga persen dibanding tahun sebelumnya sebanyak 35,5 juta ton menjadi 34,5 juta ton. Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono dalam jumpa pers Refleksi Industri Kelapa Sawit 2016 dan Prospek 2017 menyatakan penurunan produksi tersebut diakibatkan dari dampak El Nino yang terjadi di Indonesia dengan periode cukup panjang. “Pada 2016, produksi memang turun tapi tidak banyak. Penurunan sebesar tiga persen,” kata Joko di Jakarta, Selasa (31/01). Berdasar data dari GAPKI, total produksi minyak sawit Indonesia pada 2016 sebanyak 34,5 juta ton yang terbagi dari crude palm oil atau CPO sebanyak 31,5 juta ton dan palm kernel oil PKO sebanyak tiga juta ton. Sementara pada 2015, produksi CPO sebanyak 32,5 juta ton dan PKO sebanyak tiga juta ton, sehingga total produksi minyak sawit sebanyak 35,5 juta ton. Joko menambahkan secara garis besar produksi minyak sawit pada 2016 masih relatif baik. Banyak kekhawatiran bahwa produksi dalam negeri akan anjlok hingga 30 persen, namun pada akhirnya hanya terjadi hanya tiga persen jika dibanding tahun sebelumnya. “Untuk 2017, diharapkan kondisi akan lebih baik dibanding 2016,” kata Joko. Hingga akhir 2016, stok CPO Indonesia sebanyak satu juta ton, atau merupakan yang terendah, dimana rata-rata stok pada akhir tahun sebanyak 4,5 juta ton. Berdasarkan catatan GAPKI, beberapa permasalahan yang dihadapi pada 2016 antara lain adalah adanya wacana dari pemerintah untuk moratorium penanaman sawit yang dinilai akan menghambat industri minyak sawit dalam negeri. Selain itu, belum ada kepastian hukum menyangkut lahan atau tata ruang, seperti permasalahan tumpang tindih lahan yang belum terselesaikan. Industri sawit masih belum mendapatkan dampak yang signifikan dari adanya program deregulasi pemerintah. Masalah lain yang selalu menjadi bayang-bayang industri kelapa sawit adalah adanya kampanye hitam dari dalam dan luar negeri, terutama saat terjadi kebakaran lahan. Kampanye negatif juga mulai masuk pada ranah hak asasi manusia seperti mempekerjakan anak di bawah umur serta perampasan hak masyarakat adat. “Tahun 2017, harapannya pemerintah membantu dalam menyelesaikan hambatan perdagangan di berbagai negara dan berharap pasar Amerika tetap naik meskipun masih tergantung kebijakan Donald Trump,” kata Joko.

Sumber: tempo.co/Antara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.