Pakar: kesadaran masyarakat lestarikan bahasa daerah rendah

0
98

Semarang — Pakar linguistik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Herujati Purwoko menilai kesadaran masyarakat sekarang ini cenderung rendah untuk melestarikan bahasa daerah atau bahasa ibu. “Masih adakah pelajaran Bahasa Jawa di sekolah dasar (SD). Memang masih, namun sebatas mata pelajaran. Paling cuma dua jam per minggu. Ya kapan pinter bahasa Jawanya?” tanya dia di Semarang, Selasa (09/08). Hal itu diungkapkan pengajar Magister Linguistik Undip Semarang itu saat seminar International Language Maintenance and Shift (LAMAS) VI yang digelar di Pasca Sarjana Undip Semarang, 9-10 Agustus 2016. Kondisi tersebut, kata dia, diiring perilaku orangtua sekarang ini yang cenderung memilih menggunakan bahasa nasional, yakni Bahasa Indonesia ketimbang bahasa daerah dalam berkomunikasi. “Dalam berkomunikasi dengan anaknya sendiri saja kebanyakan memakai bahasa Indonesia. Anak-anak di luar (masyarakat, red.) ngomong bahasa Jawa memang iya. Namun lebih karena pergaulan,” ungkapnya. Menurut dia, kurangnya kesadaran masyarakat untuk melestarikan bahasa daerah, yakni dengan aktif menggunakannya untuk berkomunikasi itu membuat generasi muda menjadi lupa dengan bahasa daerahnya. Demikian juga dengan media, lanjut dia, sebab surat kabar lokal pun memilih menggunakan bahasa nasional dibanding bahasa daerah meski skala distribusi medianya jelas di masyarakat daerah tertentu. “Artinya, ada pergeseran peran keluarga, media, dan sekolah untuk mempertahankan bahasa ibu. Lama kelamaan, bahasa daerah akan hilang sendiri karena didominasi bahasa nasional,” katanya. Herujati mengungkapkan persoalan itu yang menjadi keprihatinan Magister Linguistik Undip dan Balai Bahasa Jawa Tengah sehingga berinisiatif bekerja sama menggelar seminar internasional LAMAS VI. “Seminar ini ingin melihat sejauh mana pergeserannya. Pergesarannya kemana? Jangan sampai generasi muda nanti malah tidak bisa berbahasa Jawa. Sekarang kan sudah banyak seperti itu,” katanya. Kondisi seperti itu saja terjadi kepada bahasa Jawa yang penuturnya relatif banyak dan sudah dirasakan dampaknya, kata dia, apalagi bahasa daerah yang jumlah penuturnya relatif kecil di daerah tertentu. “Kalau untuk bahasa Sunda, Jawa dan Bali relatif masih bisa bertahan. Namun, bahasa-bahasa lokal yang ada di Flores, misalnya, bagaimana? Ya, ini karena kurangnya kesadaran masyarakat,” pungkas Herjati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.