Neraca Perdagangan RI Surplus Karena Harga Minyak Jatuh

0
95

Jakarta -Secara kumulatif, sudah empat bulan terakhir selama Januari-April 2016 terjadi penurunan baik impor dan ekspor Indonesia dibanding periode yang sama pada tahun lalu (Januari-April 2015). Penyebab utama penurunan neraca perdagangan Indonesia masih disebabkan oleh lemahnya permintaan dunia dan juga rendahnya harga minyak dunia yang masih bertahan di level US$ 45- US$ 50 per barrel.
Bahkan sempat menyentuh level kurang dari US$ 30 per barrel beberapa bulan lalu, terendah dalam dekade terakhir.
“Dengan demikian, Pemerintah jangan terlampau gembira dulu dengan kabar surplus neraca perdagangan ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal (jatuhnya harga minyak),” ujar Dzulfian Syafrian, Ekonom INDEF dan Kandidat Doktor Durham University Business School – Inggris, Senin (16/5/2016).
Impor migas pasti turun secara “nilai” akibat anjloknya harga minyak dunia ini, hanya saja jika dilihat lebih dalam dan detil, “volume” impor biasanya tidak berubah sesignifikan “nilai” ekspor/impor. Data ini justru sebenarnya mengkhawatirkan karena, mengkonfirmasi bahwa kondisi (surplus/defisit) neraca perdagangan Indonesia masih sangat bergantung pada impor migas.
Selain itu,  konsumsi masyarakat terhadap migas masih tinggi dan terus tumbuh. Sehingga, ketika harga minyak nanti merangkak naik maka neraca perdagangan kita akan terancam defisit kembali. Terlebih dalam beberapa bulan terakhir, khususnya selama Maret 2016, harga minyak dunia naik cukup tajam.
Harga minyak terus merangkak naik dari level US$ 30 per barrel dan kini hampir menyentuh US$ 50 per barrel. Jika trend kenaikan ini terus berlanjut, Indonesia lambat laun akan mengalami defisit perdagangan kembali.
Penurunan harga minyak seperti saat ini sebenarnya adalah peluang besar bagi Indonesia. Negara-negara net pengimpor minyak (net importer countries) seperti Indonesia sangatlah diuntungkan dengan anjloknya harga minyak dunia.
Selain membuat neraca perdagangan kita menjadi surplus yang bisa membantu stabilisasi rupiah. Penurunan harga minyak juga merupakan insentif bagi dunia usaha karena ongkos produksi mereka menjadi lebih rendah, bonus dari turunnya harga minyak dan enegi secara keseluruhan.
Hanya saja, tanpa adanya perubahan struktural dalam proses kemudahan melakukan bisnis di Indonesia, insentif rendanya harga minyak tidak akan berpengaruh signifikan terhadap perekonomian secara nasional.
Namun, penurunan harga minyak juga membuat penerimaan negara (APBN) menjadi lebih sulit. Pos penerimaan dari migas pasti juga akan drop secara signifikan, oleh karena itu pemerintah harus mencari alternatif penerimaan. Salah satu yang utama adalah dengan terus menggenjot dan mengoptimalisasi penerimaan perpajakan karena tax ratio kita masih sangat rendah, apalagi jika kita bandingkan dengan Negara-negara tetangga.
“Kekhawatiran Pemerintah akan terjadinya shortfall penerimaan negara ini juga terlihat dari “ngotot”-nya Pemerintah meng-gol-kan RUU Tax Amnesty,” tutur Dzulfian.
Selain itu, penurunan harga minyak juga akan menghambat berkembangnya energi-energi alternatif dan terbaharukan (alternative and renewable energies), seperti biofuel, biodiesel, dll, karena energi alternatif akan kalah bersaing selama harga minyak masih terjangkau.
Kinerja Ekspor
Tidak seperti bulan-bulan sebelumnya, secara monthto-month kinerja ekspor Indonesia pada April 2016 justru mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya. Secara y-o-y juga kumulatif ekspor Indonesia pada Januari-April 2016 juga lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu. Nilai ekspor Indonesia April 2016 mencapai USD11,45 miliar atau turun 3,07 persen dibanding ekspor bulan sebelumnya.
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-April 2016 mencapai USD45,05 miliar atau menurun 13,63 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, demikian juga ekspor nonmigas mencapai USD40,70 miliar atau menurun hampir 10 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Melihat data ekspor tersebut, Pemerintah perlu memberikan perhatian lebih dari atas turunnya Ekspor nonmigas. Hal ini menjadi lampu kuning bagi pemerintah karena memang permintaan ekspor barang-barang kita masih lemah karena perekonomian dunia belum pulih. Berbagai negara sekarang sedang fokus bagaimana menyelamatkan perekomian mereka masing-masing yang terancam resesi.
Jika pelemahan ini terus terjadi dan recovery tak kunjung datang, neraca perdagangan kita akan semakin terpukul. Oleh karena itu, strategi terbaik saat ini adalah berbenah rumah kita sendiri, perkuat struktur ekonomi domestic kita, karena perekonomian global sedang limbung dan sulit diharapkan untuk mendongkrak perekonomian.
“Ironisnya, nilai impor golongan bahan baku/penolong dan barang modal (impor produktif) selama Januari–April 2016 masih mengalami tren penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing sebesar hampir 15,38 persen dan 17,02 persen,” kata Dzulfian.
Di sisi lain, ironisnya impor golongan barang konsumsi (impor konsumtif) justru terus mengalami tren peningkatan sebesar 16,42 persen. Data-data tersebut terus mengindikasikan pelemahan secara perlahan tapi pasti produksi industri nasional yang ditunjukkan oleh penurunan impor bahan baku, penolong serta barang modal karena Industri Indonesia sangat bergantung barang-barang impor dalam proses produksinya.
Namun, di sisi lain, Indonesia terus menjadi Negara yang konsumtif atas barang-barang impor yang ditunjukkan oleh data naiknya impor barang konsumsi. Tren ini sungguh sangat mengkhawatirkan bagi perekonomian nasional dan wajib mendapat perhatian khusus dari Pemerintah untuk sesegera mungkin membenahi struktur perekonomian kita.

Sumber: detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.