Mengapa Jepang Memilih Thailand sebagai hub MEA, Bukan Indonesia?

0
1141
Hubungan Jepang-Thailand

PortalASEAN.com – Beberapa hari lalu media gencar memberitakan berhenti-beroperasinya beberapa perusahaan besar Jepang di Indonesia, diantaranya raksasa elektronik Toshiba dan Panasonic. Berbagai spekulasi-pun mengemuka. Ada yang mengatakan kedua perusahaan tersebut bukan “tutup” namun relokasi, ada pula yang menyatakan merger, dan tak sedikit yang mengaitkan dengan batalnya Jepang menggarap proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Menurunnya perekonomian global menjadi menjadi alasan yang mencuat ke permukaan sebagai penyebab-utamanya.

Dalam era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), selain lalu lintas perdagangan diantara negara Asean lebih mudah, juga memunculkan babak persaingan baru antar negara Asean sendiri. Semua negara berebut menarik dana investasi asing, dan berlomba menjadikan negaranya sebagai basis produksi dari berbagai industri. Selain Malaysia, Indonesia ternyata harus memberi perhatian lebih besar terhadap Thailand dan Vietnam dalam memenangkan persaingan ini.

Jepang sangat jelas memilih dan mendukung visi Thailand untuk menjadi pusat atau hub dari MEA, dan menganggap negara-kerajaan tersebut lebih memiliki kemampuan untuk menjadi batu loncatan bisnis Jepang di kawasan Mekong. Jepang berharap Thailand mendukung investasi Jepang dan menyusun mekanisme tambahan untuk meningkatkan perdagangan bilateral dan kerjasama lainnya.

KTT Jepang dan kawasan Mekong 2014
KTT Jepang dan kawasan Mekong 2014

Jepang juga meminta Thailand membuat langkah-langkah penting selain Perjanjian Kemitraan Ekonomi Jepang-Thailand (JTEPA) untuk mendorong lebih banyak investasi Jepang. JTEPA adalah perjanjian perdagangan bebas antara kedua negara. Jika diperhatikan, investasi Jepang di Thailand dalam bidang otomotif mewakili 90 persen dari total industri otomotif di Thailand. Selain itu ada lebih dari 1.400 perusahaan dan 50.000 warga Jepang berdomisili di Thailand.

Pada 2013, di antara 1.584 investasi langsung asing (FDI / Foreign Direct Investment) dengan total nilai projek sekitar 647 miliar Baht (sekitar Rp 245 triliun), 872 projek dioperasikan oleh sektor swasta Jepang dengan nilai total investasi 373 miliar Baht (sekitar Rp 140 triliun) atau mencapai 57,7 persen dari total FDI. FDI Jepang ke Thailand meningkat 41% pada kwartal pertama 2014, dan pinjaman yang diberikan Jepang ke Thailand meningkat 75% pada kuartal kedua 2014. Tren peningkatan ini terus berlanjut, dan mengisyaratkan semakin membaiknya hubungan ekonomi kedua negara. Di samping itu Thailand benar-benar mampu memanfaatkan JTEPA untuk meningkatkan volume perdagangan kedua negara.

Sementara Indonesia yang juga memiliki Perjanjian Kemitraan Ekonomi (EPA) dengan Jepang sejak Juli 2008 belum dapat memanfaatkannya secara optimal, sehingga perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perjanjian tersebut.

Ada hal yang kerap kali luput dalam membahas hubungan Jepang-Thailand, yakni faktor kebudayaan, yang sangat mungkin Jepang merasa “lebih dekat” dengan Thailand dibandingkan dengan Indonesia. Jangan lupa, kedua negara tersebut mayoritas menganut agama Buddha. Sebagai catatan pada 2015 sebanyak 1.381.690 turis Jepang melancong ke Thaialand, sedangkan turis Jepang ke Indonesia tidak sampai separuhnya.

Tentu saja banyak faktor terkait investasi asing, misalnya masalah sarana dan prasarana, kemasan promosi dan sebagainya. Thailand jelas sekali mampu menciptakan citra positif dalam mendukung iklim usaha di negara tersebut.

Sebagaimana Malaysia yang mampu menarik investasi dari negara-negara Timur Tengah termasuk dalam sektor pariwisata dengan pendekatan budaya, Thailand pun tampak secara sadar melakukan pendekatan ini dalam memberikan pelayanan dan menampilkan citra positif negara tersebut. Sehingga berbagai gejolak yang terjadi di Thailand bagian Selatan, seperti meledaknya bom, banjir bandang yang melanda Bangkok dan sekitarnya beberapa tahun lalu tidak menyurutkan wisatawan dan investasi ke negara tersebut.

Di sisi lain, potensi keberagaman Indonesia yang sungguh luar biasa termasuk memiliki lebih dari 1.000 kelompok etnis, belum mampu digarap dan dimanfaatkan dengan baik. Keberagaman tersebut tentu berpotensi menimbulkan permasalahan yang lebih kompleks dibandingkan dengan Thailand yang lebih homogen.

Thailand mungkin saja dianggap relatif lebih aman dan stabil, meski tahun lalu terjadi demo besar-besaran yang sempat melumpuhkan Bangkok. Indonesia harus memanfaatkan kelebihannya dan membuat strategi menyeluruh, tidak hanya berbangga memiliki pasar yang lebih besar dengan lebih dari 250 juta penduduk. Dengan berlakunya MEA, biaya impor antar negara Asean jauh lebih murah, menyebabkan basis produksi sebuah perusahaan bisa berada di negara manapun di kawasan Asean.

Kepastian hukum, peraturan, proses yang baik dan citra positif menjadi hal penting jika Indonesia ingin berperan lebih besar dalam MEA dan persaingan global. Dukungan Jepang terhadap Thailand tentu tidak terlepas dari beberapa hal tersebut.

*********************************************
Prof. Dr. Bambang Wibawarta, SS, MA, pengamat kebudayaan. Pada 2001, bekerja sebagai peneliti di Tohuku University, Jepang.

Prof._Dr._Bambang_Wibawarta,_S.S.,_M.A_2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.