MEA Janjikan Peluang Tumbuh-Kembang Industri Farmasi Indonesia

0
935
Farmasi Indonesia
Lini produksi farmasi Indonesia

PortalASEAN.com – Pemberlakuan pasar bebas MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) sejak awal Januari 2016, menjanjikan peluang bagi industri farmasi Indonesia untuk semakin tumbuh dan berkembang, khususnya produk-produk obat herbal Indonesia, karena potensi sumber daya alam Indonesia adalah yang terbesar di Asia-Tenggara.

Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas terbesar kedua di dunia setelah Brasil, dan sumber daya alam hayati itulah yang menghasilkan berbagai bahan baku obat herbal. Pemerintah Republik Indonesia telah melakukan riset tanaman obat dan jamu dan menginventarisasi 15.773 ramuan dari 209 suku bangsa, mengidentifikasi 1.740 spesies tanaman obat dari 13.576 nama daerah tanaman obat.

Sementara sumber daya alam Indonesia memiliki sekitar 30.000 spesies tumbuhan, dan 940 spesies di antaranya adalah tumbuhan berkhasiat obat. Inilah potensi besar Indonesia untuk mengembangkan lebih lanjut sumber bahan baku obat herbal.

Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes RI mencatat, pada 2006 pasar obat herbal di Indonesia mencapai Rp 5 triliun, tahun 2007 meningkat Rp 6 triliun, tahun 2008 naik menjadi Rp 7,2 triliun, dan pada 2012 mencapai Rp 13 triliun atau sekitar 2% dari total pasar obat herbal di dunia. Kontribusi kepada ekonomi Indonesia sangat menjanjikan.

“Pada tahun 2016 ini, saya perkirakan pasar obat herbal Indonesia akan mencapai Rp 18 triliun, sementara peluang pasar ekspor obat herbal Indonesia ke kawasan Asean saya prediksi akan meningkat terkait diberlakukannya pasar MEA,” kata Executive Director DLBS (Dexa Laboratories of Biomolecular Science) PT Dexa Medica, Dr. Raymond R. Tjandrawinata, MBA, PhD, FRSC, dalam temu media di kawasan industri Dexa Medica, Cikarang, Jawa Barat, 27 Januari 2016.

Dexa

Melalui lebih banyak riset, bahan baku alami dari Indonesia bisa menjadi obat fitofarmaka atau obat herbal yang setara dengan obat modern. Banyak bahan baku dari Indonesia yang bisa dikembangkan dengan modern. Gaya hidup back to nature juga mendorong peningkatan konsumsi obat herbal secara global, yang diperkirakan mencapai USD 100 miliar pada 2015. Ini sebuah peluang yang perlu diantisipasi, kata Raymond sebagaimana ditulis dalam situs Dexa Medica.

Diungkapkan Raymond, saat ini baru ada 7 fitofarmaka, 43 herbal terstandar, dan sekitar 9000 jamu. Saat ini sudah ada beberapa obat herbal modern yang bersumber 100 persen dari bahan baku alami Indonesia, antara lain obat diabetes, batuk, pelancar sirkulasi darah, hingga membantu pengobatan kanker payudara. “Jika fitofarmaka dikembangkan, Indonesia bisa mengurangi impor obat dan mampu bersaing di era MEA,” katanya.

Melalui DLBS (Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences), PT. Dexa Medica, salah satu perusahaan farmasi Indonesia, sejak 2005 melakukan riset untuk menemukan bahan baku aktif obat herbal dari bahan alam asli Indonesia dan kemudian diproduksi menjadi obat herbal modern.

Dimulai dari penelitian biomolekuler, percobaan farmakologi hewan hingga uji klinis pada pasien-pasien di berbagai kota di Indonesia.
Keunggulan Bahan Baku Aktif Obat Herbal dari bahan alam asli Indonesia yang diproduksi oleh DLBS adalah;
• Menggunakan Biodiversitas Indonesia.
• Menggunakan Prinsip farmakologi modern dan pendekatan Biomolekular dalam mencari obat baru.
• Melakukan uji pra klinis dan uji klinis untuk melengkapi medical-evidence sesuai prinsip Good Clinical Practices (GCP).
• Dilakukan uji pada hewan coba secara etis sesuai sertifikasi AAALAC International (Association for Assessment and Accreditation of Laboratory Animal Care International).
• Diproduksi dengan fasilitas yang sudah distandarisasi: CPBBAOB (Cara Pembuatan Bahan Baku Aktif Obat yang Baik), CPOTB-IEBA (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik- Industri Ekstrak Bahan Alam), dan persyaratan internasional, seperti ISO22000 dan HACCP.
• Sarat muatan Intellectual Property Right (HaKI).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.